Awal Tahun, Harga Pinang di Pasar Hamadi Turun

Kota Jayapura – Awal 2019, komoditas pinang di Pasar Hamadi, Kota Jayapura, Papua harga jualnya turun.

“Baru dua hari harga pinang turun karena stoknya banyak, kalau kurang berarti harganya mahal,” kata Rajut, seorang pedang pinang di Pasar Hamadi, Kota Jayapura, Papua, Rabu, 2 Januari 2019.

Pengambilan satu karung pinang ukuran 25 kilogram di Pasar Hamadi dijual Rp300 ribu, yang sebelumnya dijual Rp600 ribu pada Desember 2018.

“Saya beli pinang dari Koya, kadang petani pinang sendiri yang bawa turun ke pasar. Kalau satu karung modalnya Rp300 ribu, untung bersihnya saya dapat Rp150 ribu,” tuturnya.

Meski harga jual pinang turun, Rajut mengaku, pembeli tetap antusias karena menurutnya pinang sudah menjadi kebutuhan pokok, terutama masyarakat di Papua.

Baca Juga:  Kerusuhan Antar Warga Pro dan Kontra Bupati Pegunungan Bintang Berimbas kepada Warga Pendatang

“Satu karung saya bisa jual dua hari. Biar untung sedikit asal ada pemasukan. Buat kebutuhan sehari-hari dan biaya anak sekolah,” ungkap Rajut yang sudah 15 tahun menjadi pedagang pinang.

Seorang penjual pinang lainnya, Hamdan mengaku, bila pinang sedang murah harga satu tumpuk dijual enceran Rp20 ribu, kalau lagi mahal  harganya bisa mencapai Rp50 ribu sampai Rp100 ribu satu tumpuk.

“Kalau pinang banyak dan murah rata-rata saya bisa hadilkan Rp500 ribu. Buah pinang yang saya jual didatangkang dari Arso, Koya, Depapre dan Papua Nugini,” jelasnya.

Hamdan menambahkan, jika buah pinang berkurang karena bersamaan dengan buah merah. Artinya, kalau buah merah berbuah, maka bungan pinang berguguran. Justru sebaliknya, kalau pinang banyak karena bunganya tidak berguguran.

Baca Juga:  TANAMKAN HIDUP SEHAT, SATGAS PAMTAS YONIF PR 328/DGH AJARKAN CUCI TANGAN DAN SIKAT GIGI

“Pinang tidak ada musim. Pinang banyak karena petani pinang memanen disaat bersmaan, kalau di Koya panen, berarti di Arso, Keerom, Depapre dan Papua Nugini juga panen,” katanya.

Facebook Comments

Berita Terkait:

error: Content is protected !!