loading...

Biasa-Biasa Aja

Sikap dan tindakan ekstrem: Benar-benar mengurung diri di rumah. Melarang orang keluar masuk rumah. Ekstrem di sisi lain lagi: Emang gue pikirin, jalan-jalan bebas dan persetan dengan masker. Yang terjadi ya terjadilah!

Sulit mencari sikap “tengah-tengah” yang benar-benar tengah. Selalu akan condong ke ekstrem satu atau ekstrem yang lain. Sama dengan cara kita harus bersikap terhadap media apa pun. Bahwa “Total objectivity is impossible to attain” (Benar-benar obyektif itu sesuatu yang tidak mungkin dicapai).

Melihat dua sisi ekstrem bisa sangat sebal. Melihat yang tengah tidak konsisten juga bisa bikin sebal.

Hidup jadi seperti bola pingpong. Mantul dari sisi satu ke yang lain, dan melintirnya tidak mungkin 100 persen sama saat perjalanan di tengah-tengah.

Tapi, ada yang lebih menyebalkan lagi: Yaitu orang yang gampang tersinggung dan suka mengomel. Dikerasi, marah-marah. Dilonggarkan, seenak udelnya sendiri.

Apalagi di era media sosial sekarang ini. Ada selebriti salah komentar sedikit, diomeli habis-habisan. Ada pejabat salah gerakan sedikit, diomeli tiada henti. Pamer badan habis diet, diledek tidak menghormati yang gemuk. Ketika posting kelihatan gemuk, diledek habis disuruh kurus.

Padahal, pada intinya, semua pasti mantul-mantul dari kanan ke kiri, dan di tengah-tengahnya tidak pernah sama persis. Pendapat aktivis ketika masih lapar mungkin beda ketika dia sudah kenyang. Masalahnya, zaman sekarang aktivis itu punya jejak digital yang menunjukkan “dosa-dosa” masa lalunya.

Jejak digital yang membuat kita lupa kalau orang itu berevolusi, khususnya dalam pola berpikir dan bertindak. Jejak digital yang memaksa orang untuk selalu sama. Senyum selalu sama, difoto dari sisi yang sama, agar selalu terlihat sama dan berharap dapat pujian yang selalu sama.

Semua ini bikin orang jadi susah untuk “biasa-biasa saja.”

Dan betapa sulitnya untuk mengajak orang berpikir biasa-biasa saja. Ya seperti di atas itu. Kalau diberi masukan yang ekstrem, akan resistan dan melawan. Kalau tidak diberi masukan, akan menjadi-jadi.

Ini hebatnya Bill Burr. Komedian idola baru saya di era pandemi ini. Dia bukan hanya bisa memberi masukan secara ekstrem, tapi juga membuat orang yang mendengarnya tertawa. Walau mungkin sempat terhenyak.

Seperti menempeleng kita begitu keras, sampai menoleh melewati sisi ekstrem, lalu kembalinya ke sekitar tengah-tengah.

Banyak contohnya tentang perempuan. Seolah menyindir perempuan, seolah menghina perempuan, tapi kita bisa menangkap kalau maksud dia mungkin justru sebaliknya.

Dengan gaya bicara yang seperti teriak marah (tapi bukan), Burr menyebut kalau perempuan memang ingin diperlakukan setara seperti laki-laki, maka perempuan juga harus siap dengan konsekuensi sama dengan laki-laki.

Menurut komedi Burr, laki-laki sekarang masih cenderung digaji lebih besar dari perempuan karena ada elemen “asuransinya.” Misalnya, kalau ada kebakaran, atau ada masalah berbahaya, perempuan dan anak-anak masih didahulukan.

Baca Juga:  Rumah Ghozi

Dia menyebut contoh skenario film Titanic, yang dia anggap sebagai film horor untuk laki-laki. “Karena ketika seandainya kita berdua ada di Titanic dan kapal itu mulai karam, karena alasan tertentu, Anda boleh naik ke sekoci bersama anak-anak sementara saya harus tetap bertahan. Itulah mengapa saya layak digaji satu dollar per jam lebih mahal,” kata Burr.

Lalu ada gurauan/sindiran yang lebih “keras” lagi.

Kata Burr, dia suka melihat kekasihnya (sekarang istrinya) menonton acara talk show Oprah Winfrey. Bukan karena suka Oprah, tapi karena untuk mencari celah untuk mencela kekasihnya dan Oprah.

Bill Burr dan istrinya, Nia Renee

Momen itu tiba saat Oprah mengundang seorang perempuan, memujinya habis-habisan karena memiliki “pekerjaan paling berat di dunia.” Yaitu menjadi seorang ibu.

Burr langsung menyela. Karena dia merasa itu sebagai pernyataan paling berlebihan. Dia lantas menyebut pekerjaan-pekerjaan lain di dunia yang sangat membahayakan. Seperti bekerja di tambang, di dalam perut bumi. Bahkan bekerja memasang genting di tengah musim panas akan lebih menyiksa. “Pekerjaan apa saja kalau seragamnya pakai piyama (daster) bukanlah pekerjaan terberat di dunia,” celetuk Burr.

Plus, tambah Burr, Oprah tidak layak menilai seperti itu. “Oprah tidak pernah menjadi seorang ibu!” Begitu punchline-nya.

Tersinggung? Mungkin reaksi pertamanya seolah menuju ke sana. Tapi kemudian jadinya seperti tempelengan yang mengingatkan. Bahwa kita jangan berlebihan dalam menilai segala hal. Biasa-biasa saja. Dalam komedi-komedinya, Burr biasanya selalu mengingatkan bahwa kalau kita mau enaknya, juga harus mau tidak enaknya.

Seorang komedian, menurut dia, harus bisa merasakan sesuatu yang tidak pas itu. “Komedian punya kemampuan untuk merasakan perasaan-perasaan yang berbeda,” ucapnya.

Bill Burr sebenarnya bukan komedian baru. Saya saja yang baru rajin menonton semua show-nya selama masa pandemi. Maklum, mencari bahan-bahan pencerahan di saat komedian-komedian idola lain sudah habis ditonton semua. Dan tidak mudah mencari komedian gaya intelektual seperti ini.

Nama Bill Burr sendiri muncul di timeline saya gara-gara urusan pandemi ini. Rupanya, pada 2010, dia juga pernah bicara tentang bagaimana Bumi ini sudah terlalu penuh. Sudah waktunya untuk “dibersihkan.” Seperti yang pernah dibicarakan komedian idola utama saya: George Carlin.

Dan setelah itu, Burr berkali-kali menggunakan “overpopulation” sebagai bahan komedinya. Misalnya: “Kita mungkin butuh hanya sepersepuluh populasi sekarang untuk bisa bertahan hidup. Benar-benar sudah terlalu banyak manusia. Kita harus bisa mengurangi dari total 7 miliar orang menjadi… Entah berapa angka ajaibnya. Tapi saya bisa membayangkan ini pasti terjadi. Saya tak tahu Anda akan seperti apa, tapi rasanya saya pun tidak akan selamat.”

Baca Juga:  Santo Purnama

Pada 2010 itu, sepuluh tahun lalu, Burr pernah bicara kalau dia “Pro Flu Babi.” Pencetusnya, saat dia melihat manusia ini mulai “sulit dipercaya” kelakuannya. Begitu banyak manusia tidak tahu diri, begitu banyak manusia kegemukan, dan lain sebagainya. Dan manusia-manusia itu akan terus punya anak yang mungkin akan melanjutkan tabiat orang tuanya.

“Saya benar-benar pro swine flu. Benar-benar menginginkannya. Kita semua butuh (pandemi). Dan itu akan terjadi. Tapi janganlah terlalu takut. (Pandemi) itu hanya akan membunuh yang lemah. Serius, pakailah sweater, minumlah vitamin. Anda akan baik-baik saja. Tapi… Kita harus membiarkan alam melakukan apa yang harus dia lakukan. Alam terus mencoba menolong kita, tapi kita selalu melawannya,” cerita Burr.

Manusia memang selalu melawan kehendak alam. Kalau alam ingin mengurangi isi bumi, manusia menciptakan vaksinasi. “Serius, pandemi itu seperti kebakaran hutan yang alami. Kita harus biarkan alam membakar semua kayu mati. Demi Tuhan, kita ini satu-satunya spesies yang saves the weak (menyelamatkan yang lemah). Hanya kita. Singa tidak melakukan itu,” tandasnya.

Sekarang, itu benar-benar terjadi.

Sekarang, kita harus terbentur dalam dua pilihan ekstrem. Sangat hati-hati. Atau sangat membiarkan. Tidak ada tengah-tengah yang pas.

Saya bisa membayangkan apa yang dipikirkan Burr saat melihat kelakuan para politikus di hari sekarang ini. Para politikus akan “terpingpong” oleh kondisi dua ekstrem, tapi masih ingin menyenangkan kedua sisi demi popularitasnya sendiri.

Dan itu mungkin enaknya jadi komedian, bukan jadi politikus. “Ada begitu banyak orang di dunia politik, dan mereka terlalu berhati-hati dalam menertawakan sesuatu. Mereka terlalu khawatir dengan apa yang dipikirkan orang lain!” pungkas Burr, yang mengaku tidak memilih Trump maupun Clinton dalam pemilihan presiden Amrik 2016 lalu.

Anyway, yang terjadi sudah terjadi. Mungkin “normal baru” itu ya sudah, kita biasa-biasa aja. Tidak ada guna mengomel, tidak ada manfaat dalam menghujat. Yang sudah ya sudah. Tinggal habis ini bagaimana.

Yang punya mimpi tetaplah mengejar mimpi. Yang ingin main aman, ya itu pilihan masing-masing. Kalau kata Burr sih, tetap saja kejar itu mimpi. Kata dia, berdasarkan pengalaman meniti karir jadi komedian: “Tidak ada risiko saat kita mengejar mimpi. Justru ada risiko besar kalau kita mencoba main aman.”

Sebagai penutup, saya ingin mengucapkan mohon maaf lahir batin untuk semua. Itu saja. Tidak berlebihan dalam minta maaf, tapi juga tidak pura-pura dan bukan copy paste. (azrul ananda)

Facebook Comments

Berita Terkait:

error: Content is protected !!